by

Hartati, S.Pd (Kepala TK Semanggi 1 Pasarkliwon Surakarta) – Mengedapankan Mutu dan Kualitas Pendidikan

Hartati Kepala TK Semanggi 1 Pasarkliwon

Sejak berdiri tahun 1965 yang saat itu masih menjadi satu lokasi dengan SD Muhammadiyan 23 Semanggi, TK Aisyiyah Semanggi 1 Pasarkliwon penah memperoleh siswa sebanyak 100 lebih. Seiring berjalannya waktu, perkembangan SD dan TK pun semakin meningkat sehingga pada tahun 2004 TK dibangun gedung dengan lokasi berbeda yakni di gang Serayu Rt.04 Rw XIII Semanggi yang jumlahnya murid masih stabil tidak ada penurunan.
“Kurun waktu 3 tahun kebelakang jumlah murid yang belajar di sekolah ini menurun. Hal ini disebabkan menculnya sekolah TK baru bak jamur di musim penghujan. Terlebih juga berdirinya TK yang sangat dekat lokasinya dengan sekolah kami. Namun begitu, kita menerima apa adanya dan ikhlas karena tujuannya sama berbuat kebaikan mendidik anak demi pendidikan generasi penerus bangsa,” ungkap Kepala TK Semanggi 1 Pasarkliwon Surakarta Hartati, S.Pd saat ditemui Majalah DIDIK belum lama ini.
Lebih lanjut, wanita yang mengabdikan diri sebagai pendidik sejak 1 Maret 1983 ini berujar dengan mengedepankan mutu dan kualitas pendidikan pada tahun ini secara perlahan jumlah murid meningkat lagi.
“Apa yang diperoleh kami syukuri. Jumlah siswa kami 55 anak. Walaupun keberadaan TK ini masuk dalam gang namun antusias masyarakat masih besar. Oleh karena itu dalam memberikan pelayanan pembelajaran tetap yang kami utamakan dengan memodifikasi antara model pembelajaran centra dan area itu berjalan lancar,” terangnya.
Masih menurutnya, siswa lulusan dari TK Aisyiyah Semanggi 1 Pasarkliwon ini saat berada di SD selalu masuk peringkat 10 besar. “Dalam mendidik anak tidak hanya mendepankan intelektualnya saja tetapi juga menerapkan pendidikan keislamannya dengan kegiatan sebelum masuk pembelajaran ada kegiatan bacaan Iqro’. Setelah itu anak anak melakukan sholat Dhuha. Setiap hari Jum’at kita adakan infak. Guna menunjang pembelajaran ada tambahan ektrakurikuler bahasa Arab, Inggris, komputer yang semua sifatnya baru sebatas pengenalan,” paparnya.
Ditambahkah oleh wanita ramah ini walaupun sekolah Islam tetap tidak meninggalkan pendidikan bahasa daerah atau Jawa. “Untuk melatih anak memiliki sopan santun atau unggah-ungguh di sekolah bahasa Jawa dipraktekan dalam berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa Kromo Inggil, lewat depan orang tua juga tegur sapa dan menyanyikan lagu Jawa. Sehingga di rumah dan dimana pun tetap bersikap menghormati orang yang lebih tua. Ketika hal ini ditanamkan sejak kecil maka anak setelah dewasa akan teringat sampai kapan pun,” ujarnya.
Kemudian, wanita yang masih energik ini berkata untuk melatih keberanian dan kemandirian anak setiap akhir tahun pembelajaran mengadakan akhirusanah dengan menampilkan potensi anak yang telah diperoleh selama belajar di TK. “Keistimewaan anak kita tampilkan ada 13 macam atraksi seperti membaca Al Qur’an, sajak Islami, parade doa, parade puisi, tarian daerah dan lain sebagainya. Acara tersebut dihadiri dari jajaran UPTD Dikpora Kecamatan Pasarkliwon, pengawas sekolah, komite sekolah dan orangtua murid.
“Selama 31 tahun kegiatan akhirusanah diselenggarakan. Orangtua senang dan bangga bisa melihat bakat dan kreatifitas dari anaknya dapat ditampilkan pada acara tersebut. Di tengah semester ada kegiatan pembelajaran di luar sekolah dengan mengadakan kunjungan ke berbagai home industry pembuatan dan pengelolaan makanan seperti pembuatan tahu tempe. Dan pada bulan Maret kita agendakan mengadakan out bound dan rekreasi wali murid. Melalui berbagai kegiatan sekolah dapat menunjang keberhasilan tujuan visi dan misi sekolah.
Di akhir perbincangannya, ibu dari dua anak ini berpesan dan memberikan motivasi kepada pendidik TK untuk tidak berkecil hati mengabdikan diri sebagai guru TK walaupun sebagai guru TK atas ridho dan petunjuk Allah SWT mampu menghantarkan anak meraih cita-cita yang diinginkannya.
“Saya sangat bersyukur bisa mengantarkan kedua anak saya meraih sukses walau seorang guru TK. Anak saya pertama bernama Ririn Hidayah Raraningrum sejak usia 5 tahun sudah menjadi da’i cilik mengisi acara di Solo Raya. Selama sekolah di SD Muhammadiyah 23 selalu meraih rangking pertama dan mendapatkan beasiswa. lulus SD dengan nilai terbaik peringkat 7 se-Surakarta. Kemudian masuk SMPN 4 Surakarta lulus melanjutkan ke SMAN 1 Surakarta. Di SMA sebelum lulus sudah dinyatakan masuk UGM MIPA juruasan Statistik. Tahun 2009 diangkat pegawai negeri sipil departemen perdagangan. 3 tahun disana mendapatkan beasiswa S2 di Jepang dan mendapatkan jodoh teman S2 sama-sama di Jepang. 12 Oktober 2013 menikah dan sekarang saya sudah punya cucu,” pungkasnya dengan nada haru penuh bangga. (Sofyan/r)

Comment

News Feed