by

Lukisan Pemandangan Alam Karya Choirun Sholeh

iKabari – Lebaran ke tiga tepatnya 7 Juni 2019 salah satu crew iKabari silaturahim ke Rumah seorang Pelukis di Klaten, nama yang akrab yang dipanggil ABAH tidak lain adalah Sang Maestro pelukis “The Natural Paintings” Choirun Sholeh.  Melukis, terlepas dari alirannya, objeknya, serta tentang cara mengekspresikan pengalamannya, telah menjadi cara tersendiri yang unik bahkan sampai ke tahap yang mungkin terdengar asing, aneh, dan mengganggu kenyamanan bagi banyak orang terutama para seniman saat hal itu kita lihat berada di pikiran dari seorang pelukis kata   ‘Abah’ nama panggilannya.

Abah yang terpampang gamblang di Facebook-nya “Pelukis Alam Tanpa Makhluk Bernyawa”, yang merupakan seorang pelukis naturalis, telah membuat lukisannya laku terjual dimana-mana. Mantan Presiden SBY, Dipo Alam, dan rentetan figur publik lainnya banyak yang membeli lukisan Abah. Ia pun juga aktif untuk menggelar pelbagai macam exhibition-nya. Seni memang bukan perihal keindahan, tapi tentang nilai yang dianut dan diwujudkan oleh si perupa, tetapi, lukisannya memutlakkan keindahan visual tanpa perlu jatuh ke dalam subjektivitas perseorangan.

Dengan penampilannya yang berjenggot panjang, celananya yang gombrong di atas mata kaki, sekelibat terlihat dua aspek identitas darinya; entah anggapan inilah gaya yang katanya nyeleneh dari para seniman, atau inilah gaya seseorang yang sedang merepresentasikan sebuah tampilan ajaran agama tertentu; kelompok tertentu; yaitu kelompok Salafi.

SEKILAS BIOGRAFI CHOIRUN SHOLEH
Choirun Sholeh,( lahir di Klaten 17 juni 1967) anak terakhir dari lima bersaudara , mulai gemar menggambar sejak Sekolah Dasar, beberapa kali penghargaan di raihnya waktu mengikuti lomba lukis tingkat SD sekecamatan hingga kabupaten, setelah lulus SMA mulai fokus menggeluti seni lukis dengan otodidak, mengingat untuk meneruskan sekolah di Akademi Seni itu tidaklah mungkin karena kehidupan orang tua yang di bilang sangatlah pas-pasan. pada masa itu untuk bisa melukis, Choirun Sholeh sering kali terbentur dengan permasalahan biaya untuk membeli alat-alat lukis agar bisa terus menyalurkan hobby dan bakatnya tsb. Meminta uang pada orang tua tidaklah mungkin karena keadaan ekonimi orang tua yang bisa dikatakan tidak mencukupi untuk merealisasikan bakatnya ini, di tambah lagi alat-alat lukis terhitung mahal waktu itu untuk kelas pemula.
Tahun 1987, setelah lulus SMA tekadnya keras untuk bisa menyalurkan bakat melukisnya tersebut, Choirun Sholeh mulai mencari uang untuk dapat membeli alat-alat lukis dengan cara berjualan es potong (es Agogo) di daerah Tembilahan Indragiri Hilir Riau. Di belakang gerobak dorong ,dibawah payung diiringi terompet kecil toet-toet Choirun Sholeh keliling di setiap gang dan jalan di kota Tembilahan. Dari situlah dia mendapatkan uang dan mulai dapat membeli alat-alat lukis untuk meneruskan hobby melukisnya. Perjuangan menggapai impian Choirun Sholeh yang bisa dikatakan cukup keras itu belum membuat hasil karya lukisannya laku di jual dimasa itu. Kadang hanya ada saudara dan teman datang yang minta lukisannya itu. Usahanya di Riau berjalan hingga dua tahunan..
Tahun 1990, mulai membuka sanggar lukis di rumah sendiri. Saat itu lukisannya sudah mulai di beli orang namun tetap saja belum bisa menutupi biaya beli alat-alat lukis agar usahanya terus bisa berjalan. Karena pembeli lukisannya hanya tetangga dan orang sekitarnya saja. Waktu itu lukisannya dijual murah sekali. Kadang tidak bisa mematok harga yang layak dari bakat melukisnya tersebut dengan kata lain Choirun Sholeh hanya dapat berlega dengan membiarkan terserah pembeli mau bayar berapa untuk sekedar meng ganti biaya beli cat.
Lagi-lagi terbentur biaya untuk beli alat-alat lukis. Pekerjaan demi pekerjaan silih berganti di lakoni, dari jualan plastik bungkus di pasar Sleman, jualan buah di pasar Johar Semarang, tukang amplas di LIK (Lembaga Industri Kecil) Semarang. Akhirnya tahun 1991 Choirun Sholeh memutuskan berjualan Es potong lagi di kota Sambas – Kalimantan Barat. Perjuangan berat masih harus ditempuhnya. Karena hanya dengan berjualan es itulah uang bisa terkumpul secukupnya dan cat lukispun bisa terbeli. Begitulah seterusnya setiap cat habis solusi untuk dapat cat…, ya berjualan es potong. Karena sampai saat itu kalau harus mengandalkan hasil menjual lukisan saja belum bisa untuk membeli keperluan melukis.
Tahun 1992 Jakarta adalah persinggahan selanjutnya untuk seorang Choirun Sholeh. Mulai menguji dan menjajakan hasil karya lukisan di Jakarta dimana tempat berkumpulnya uang dan manusia. Di Jakarta inilah Choirun Sholeh mulai belajar menjalani lebih serius lagi hidup dengan hasil lukisannya dan Alhamdulillah dapat mengontrak rumah kecil di kawasan Lenteng Agung. Berrmodalkan tekad Choirun Sholeh mulai menawarkan hasil karyanya dari pintu ke pintu, rumah ke rumah orang-orang kaya. Keliling dari pagi hingga sore. Terkadang saat waktu pulang kekontrakannya.., tak satupun ada hasil. Pengalaman menjadi pelukis jalanan di kawasan Pasar Baru – Jakarta juga pernah dia lakoni. Panasnya terik matahari di bawah payung di pinggiran kali Choirun Sholeh menawarkan kepada para pengguna jalan untuk melukiskan wajahnya atau photo.
Di Jakarta inilah Choirun Sholeh mulai banyak mengetahui jenis aliran lukisan dengan berbagai macam bentuk dan modelnya setelah sering berkunjung di Pasar Seni Ancol dan tempat- tempat penjualan lukisan. Maklumlah Choirun Sholeh tidak belajar seni secara Akademis. Baru disadarinya kalau lukisan itu ternyata ada banyak macem aliran. Choirun Sholeh banyak belajar dengan melihat hasil karya pelukis pelukis senior di Ancol dan dan gallery-gallery. Bertanya tentang Lukisan, macam-macam cat, harga cat, cara membuat kanvas sendiri dengan baik. Bukan waktu yang singkat dan ringan untuk sebuah perjuangan.
Choirun Sholeh
Tahun 1994, Choirun Sholeh-pun menikah dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta bersama Istri dan anaknya. Di Jogja inilah Choirun Sholeh mulai mengumpulkan terus hasil karyanya hingga tahun 1997. Setelah perjuangannya mengumpulkan hasil karya, mulailah Choirun Sholeh mencoba mengikutikan karya – karyanya pada FKY ( Festival Kesenian Yogyakarta) sebagai ajang pameran lukisan perdananya.
Setelah itu…., mulailah kehidupan sebagai seorang seniman di mulai lebih tekun lagi. Istrinya yang juga lulusan IKIP Jogja jurusan Seni Tari ikut mendukung profesi sang suami sebagai pengabdi seni ,mengarungi bahtera kehidupan bersama dalam suka dan duka sebagai keluarga seniman yang mencukupkan hidup dari hasil karya seni.
Pada Tahun 1997 itu Choirun Sholeh terus menerus mengikuti event-event pameran, dari FKY, Basar Seni, Beber Seni, Jambore Nasional Seni Rupa, hingga pameran-pameran di Hotel bintang Lima tidak luput diramaikan oelh hasil karya Choirun Sholeh ini.
Studio Abah Choirun Sholeh Di Klaten
Tahun 2000, Setelah pecinta seni dan kolektor mulai mengenalnya…, Choirun Sholeh memilih pindah dan menetap di Klaten sebagai tempat di mana beliau di lahirkan. Membangun rumah dan studio di Klaten untuk aktivitasnya melukis hingga saat ini.
Choirun Sholeh & PELUKIS NATURALIS TANPA MAKHLUK BERNYAWA.
Lukisan Landscape Karya Choirun Sholeh
Berjalan dengan waktu…, saat ini Choirun Sholeh memutsukan untuk beralih pada LUKISAN PEMANDANGAN ALAM TANPA MAKHLUK YANG BERNYAWA. Mungkin menjadi pertanyaan bagi anda…, apa yang menyebabkan Choirun Sholeh memilih beralih pada aliran Naturalis dengan tidak menyertakan makhluk yang bernyawa ke dalam lukisannya. Sebagaimana yang telah Choirun Sholeh fahami & yakini berdasarkan AlQur’an & AlHadist, bahwa melukis makhluk yang bernyawa itu tidaklah diperbolehkan secara syar’i. Dengan segenap alasan yang diyakininya itulah yang saat ini menjadi latar belakang karya –karya lukisan Choirun Sholeh tanpa menyertakan makhluk yang bernyawa hingga saat ini dan seterusnya. Semoga pembaca bisa menghargai apa yang sudah beliau yakini saat ini.
Lukisan Choirun Sholeh yang di koleksi Bapak SBY
Choirun Sholeh & PEJABAT TINGGI NEGARA
Perjuangan bukanlah sia-sia. Tekad dan harapan yang besar salah satu faktor yang membentuknya menjadi seorang pelukis yang cukup dikenal. Dan ini semua dicapai karena kemudahan dari Allah semata.
Dari hasil karya- karyanya yang telah tersebar saat ini…, beberapa sudah di koleksi oleh pejabat Negara dan pengusaha besar Indonesia. Antara lain seperti :
Bapak Presiden Susilo Bambang Yudayana (baca : Koleksi lukisan Bapak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono)
– Bapak Menseskap Dipo Alam
– Bapak mantan kepala BIN Sutanto
– Bapak Hary Cahyono mantan wakasad
– Karyanya juga banyak di pajang di Instansi Pemerintah seperti di Istana Negara (baca : Salah satu koleksi lukisan Istana Negara karya Choirun Sholeh)
– Kementrian Sekertaris Negara dan masih banyak lagi.
AKHIR KATA
Kiranya biografi Choirun Sholeh ini cukup memberi inspirasi bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Ketahuilah…, perjuangan butuh tekad, keberanian, pengorbanan dan paling penting adalah tuntunan dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan pernah menganggap diri besar dengan sendirinya.., karena peran andil Allah subhanahu wata’ala sang pencipta dan pemberi rezki sangat besar dalam jalan hidup setiap anak manusia.
Sumber : http://amaniachoirunsholeh.blogspot.com

Comment

News Feed