by

Mengenal Sosok KH Ali Darokah, Ulama Asal Surakarta

Sebagai seorang ulama karismatik, mungkin sosok KH Ali Darokah belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Selain KH Ali sebagai sosok yang sederhana, tampaknya beliau tidak ingin namanya dikenal menyerupai ulama lain.

Menurut penuturan KH Dimyati (ulama seperjuangan), peranan KH Ali begitu besar dalam bidang sosial-keagamaan. Dalam istilah akademik, sosoknya lebih cocok dijuluki “the great man” atas jasa-jasa sepeninggalannya.

KH Ali Darokah Kecil dan Latar Pendidikan

KH. Ali kecil dilahirkan, ditempa, dan dibesarkan di perkampungan pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Selanjutnya, beliau masih ada hubungan darah dengan kiai Muqoyyad, seorang panglima perang yang membantu pangeran Diponegoro saat perang Jawa (1825-1830).

Guru sekaligus kakeknya bernama KH Idris (Klaten), yang mengajarinya berbagai ilmu agama. Misalkan, seperti ilmu tajwid, qiro’ah, tafsir, hadis, fiqh, nahwu sorof, balaghoh, mantiq, tarikh, tasawuf, dan ilmu falaq.

Berkat asuhan, didikan, dan binaan kakeknya inilah KH Ali tumbuh besar sebagai pribadi yang cerdas dan religius. Pasca pendidikan keluarga, pendalaman ilmu agama diteruskan di madrasah “Mambaul Ulum” yang diketuai oleh pamannya (KH. Ghozali).

Perjalanan pendidikan KH Ali dihabiskan di madrasah “Mambaul Ulum”, sebelum akhirnya mengajar di berbagai perguruan tinggi di sekitar Solo. Mengajar sebagai dosen ilmu syariah di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta.

Dalam kehidupan akademis sempat diamanahi posisi rektor di Universitas Islam Surakarta (UNIS) pada tahun 1990 hingga 1997. Aktivitas dalam bidang pendidikan Islam dijadikan tempat pengabdian dan ladang ibadah.

Pengasuh di Pondok Pesantren Jamsaren

Kemasyhuran Jamsaren sebagai pondok pesantren tertua di Jawa barangkali tidak terbantahkan. Pada tahun 1750, Pakunuwono IV mendirikan surau kecil, selanjutnya dinamakan pondok pesantren Jamsaren.

Peranan lembaga tradisional ini diharapkan sebagai tempat belajar ilmu agama oleh penduduk Surakarta. Selanjutnya, Pakubuwono IV mendatangkan tokoh agama, KH Jamsari (Banyumas) dan KH Hasan (Gabusan), sebelum vakum selama 50 tahun akibat kebrutalan (operasi) tentara Belanda.

Pasca peristiwa operasi itu, pondok pesantren Jamsaren dihidupkan kembali oleh KH Idris dari Klaten. Dengan bantuan Pakubuwono X, pesantren diperluas dan dilengkapi bangunan madrasah yang dinamakan “Mambaul Ulum” Surakarta.

Santri yang datang tidak hanya dari Surakarta. Santri daerah lain mulai banyak berdatangan, ada yang dari Tegal, Semarang, Banten, Magelang, Salatiga, Jombang, dan Mojokerto. Para santri mendalami karya kitab-kitab klasik dengan metode sorogan dan blandongan.

Hingga pada tahun 1923 setelah wafatnya KH Idris, Jamsaren diteruskan oleh anaknya bernama KH Abu ‘Amar. Pola mewariskan inilah yang menyebabkan KH. Ali Darokah tampil sebagai pengasuh pondok setelah ayahnya KH Abu ‘Amar wafat (1965).

Kiprahnya di berbagai tempat tidak membuat KH Ali surut langkah. Transformasi pesantren dengan pemikiran keislaman yang kritis diajarkan pada santrinya. Pola struktural dibentuk di pesantren, terdiri dari lurah pondok, wali santri, staf pengajar, dan staf dakwah.

Pada periode KH Ali, metode pengajaran dikembangkan menjadi sistem kelas. Seiring dengan perubahan zaman, penambahan materi ilmu umum diberikan pada santri. Hal ini diberikan agar santri tampil kritis, menguasai ilmu pengetahuan dan mampu menjawab tantangan zaman ke depan.

BTampil sebagai Ketua Umum MUI Surakarta

Jejak-jejak kehidupan KH Ali memiliki peran besar jika dikaitkan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Surakarta. Pasalnya, tampilnya sebagai ketua umum sejak 1985-1997, memberikan kontribusi menyelesaikan problematika sosial keagamaan, bahkan politik.

Terlihat bahwa KH Ali membawa MUI tampil tidak hanya sebagai organisasi pemberi fatwa keagamaan. Pasca kepemimpinan KH Mansur Suhardi dan KH Sahlan Rosyidi (1962-1974), MUI Surakarta berjalan berkelindan berdialektika dengan problematika sosial umat Islam.

Prestis dari kepemimpinan KH Ali di MUI, antara lain seperti menjadikan dakwah Islam berjalan sangat intensif, meluruskan kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan kehidupan masyarakat, dan berhasil menjadikan MUI sebagai pelopor harmonisasi antarumat beragama.

Tidak jarang MUI juga menjembatani beragam pandangan dan pemikiran yang muncul dari berbagai organisasi Islam. Banyaknya organisasi Islam di Surakarta, antara lain adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, MTA, SI, Diponegoro, PERSIS, HTI (sebelum dibubarkan), LDII, FPI, ICMI, dan Sarekat Ngruki.

Hingga pada akhirnya KH Ali Darokah (1997) dikenang sebagai tokoh besar yang gigih dalam memperjuangkan Islam di kota Surakarta. Media perjuangannya melalui lembaga pendidikan, lembaga hukum, organisasi MUI, dan pondok pesantren Jamsaren.

Peranan KH Ali sungguh luar biasa, baik pemikiran, kontribusi sosial keagamaan, politik, hukum, dan lembaga pendidikan sampai akhir hayatnya di kota kelahirannya di Surakarta.

Merefleksikan Kiprah KH Ali Semasa Hidupnya

Sebagai generasi baru yang terlahir di tahun 1980, 1990, 2000, tidak salah belajar pada sosok KH Ali pada semasa hidupnya. Hal yang perlu ditiru adalah sisi-sisi kegigihan, ketekunan, dan perjuangan pada umat.

Sosoknya yang cerdas, berwibawa, sekaligus luasnya keilmuan Islam yang dimiliki, menjadikan beliau disegani, dituakan, dihormati, dan disayangi oleh keluarga, teman-teman, dan masyarakat luas.

Hal itu dibuktikan ketika meninggal dunia, beliau didatangi para pelayat dari berbagai kalangan, pemerintah, tokoh agama, masyarakat umum, kerabat, semua tumpah ruah untuk mengantarkan KH Ali ke peristirahatan terakhir.

Perjuangan beliau semasa hidup hingga sekarang masih dikenang oleh keluarga, sahabat, rekan sejawat, dan masyarakat di Surakarta. Ketokohan KH Ali bagaikan magnet bagi generasi sesudahnya untuk dijadikan referensi kehidupan.

Sekaligus, akhir-akhir ini banyak sejarawan, penulis yang masyhur, pemerhati biografi, menuliskan sosok KH Ali dan kehidupan sosial keagamaan dalam sebuah penelitian.

Sumber : https://www.qureta.com/post/mengenal-sosok-kh-ali-darokah-ulama-asal-surakarta

Comment

News Feed