by

Humanisme

Menetes Melintas Batas
Cerpen Oleh : Noerjoso
Han si   bayi mungil itu sudah terlelap dalam dekapan tangannya, ketika ia telah berhasil meraih kaleng susu yang tergeletak di almari dapur.  Mata sipitnya dengan penuh perhatian mengeja huruf demi huruf tulisan yang tercetak pada kertas label kemasan susu kaleng tersebut.  Sejurus kemudian wajahnya tampak terkulai penuh rasa kecewa dan penyesalan.  Tangannyapun segera meletakkan kembali susu kaleng tersebut pada tempatnya semula.  Ia sungguh sangat berharap susu kaleng tersebut dapat ia berikan kepada bayi Khot yang seusia dengan bayinya.  Sayangnya keadaannya tidak begitu, sehingga susu kaleng itu  urung ia berikan kepada Muh bayinya Khot.  Keinginannya untuk menolong Khot dan bayinyapun segera iabatalkan.

Namun demikian  ibu muda bernama asli Giok dan sering dipanggil dengan sapaan Cik Yok itu segera menepis kekecewaan, keraguan dan npenyesalannya. Kakinya segera melangkah keluar dari dapur mungil miliknya.  Langkahnya menuju sebuah rumah kontrakan yang berada tepat di belakang rumahnya.  Langkahnya begitu ringan dan ringkas.  Beberapa orang tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya tampak saling pandang dengan penuh tanda tanya.  Tak biasanya Cik Yok hanya melempar senyum tatkala bertemu dengan tetangganya.  Biasanya ia akan menyapa dengan penuh kehangatan siapapun tetangga yang ia temui.  Tak mengherankan jika beberapa tetangganya bertanya-tanya dalam hati atas sikap Cik Yok siang itu.  Ramah dan hangat, demikianlah memang tabiat aslinya.  Semua orang di Kampung Cinderejo Gilingan belakang terminal Tirtonadi itu sungguh sangat mengenalinya.  Maklumlah kampung ini begitu rapat penduduk , sehingga setiap orang dapat mengenali setiap tetangganya dengan sangat jelas.  Apalagi Cik Yok adalah peranakan Tionghoa, sehingga sangat mudah dikenali.

Sesampainya di rumah yang ia maksud, dengan tanpa permisi terlebih dahulu ia pun segera menyeruak masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut.  Didapatinya Khot tengah berusaha menghentikan tangis Muh, bayinya yang berumur sepadan dengan Han.  Karena sibuk menenangkan tangis bayinya, sampai-sampai Khot pun tidak menyadari tatkala Cik Yok telah duduk tepat di sampingnya.  Cik Yok hanya terdiam sambil matanya yang sipit menatap lekat wajah Khot.  Keterenyuhan semakin menyelimuti hatinya.  Nalurinya sebagai seorang ibu dan seorang perempuan  berteriak, meronta dan memberontak membakar hatinya.

“Sungguh berat takdir yang harus dijalani Khot”, demikian gumamnya dalam hati.  Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Khot yang bernama lengkap Siti Khotijah terpaksa harus menanggung “derita di balik harmoni” rumah tangganya. Ramelan, suaminya yang berprofesi sebagai sopir truk telah mengkhianati cintanya.  Suaminya secara terang-terangan telah menikahi perempuan lain.    Dan perempuan itu pun kini tengah mengandung anak suaminya sebagaimana dirinya juga tengah mengandung anak kedua dari suaminya.  Muh anak pertamanya yang berumur setahun terpaksa harus ikut menanggung derita bathinnya.  Tak terkecuali dengan janin yang tengah dikandungnya.  Janin tak berdosa itu terpaksa juga harus menanggung guncangan hatinya.

 

Rasa kecewa dan sakit hati yang menderanya menyebabkan ASI-nya (air susu ibu) bagai sebatang sungai yang kering.  Padahal biasanya memancar bagai mata air yang tak pernah kering.  Tak setetespun ASI kini mengalir membasahi  kerongkongan Muh si buah cintanya.  Raungan dan tangis Muh semakin menyayat hati kedua ibu muda itu meski keduanya berlainan suku bangsa dan tidak ada hubungan darah skalipun.  Cik Yok sungguh sangat ingin membagi ASInya kepada bayi Khot.  Namun begitu ia ragu untuk melakukannya.  Pikirannya berkecamuk antara ragu, kasihan dan seribu  satu perasaan lain yang bercampuraduk tanpa bisa ia ungkapkan.  Beberapa kali tangannya ia ulurkan seraya hendak mengambil bayi Khot dari tangan ibunya.  Setiap kali ia julurkan tangannya sesaat itu pula pikirannya dihantui rasa keraguan.  Sungguh ia ingin sekali meneteki Muh.  Namun niat itu segera ia urungkan.  Akhirnya iapun meninggalkan Khot dengan bayinya yang kini telah terlelap karena kelelahan.  Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya  tatkala ia berpamitan.  Khotpun hanya mengangguk perlahan mengiringi kepergiannya.  Angin petang berhembus semilir mengiringi langkah kaki Cik Yok.  Langit di sebelah barat telah terlihat menjingga  pertanda malam telah mulai mengintip.

Malam semakin larut.  Hiruk pikuk terminal Tirtonadi yang hanya berjarak   ratusan langkah dari rumah Cik Yok juga telah terlelap setelah seharian tertindih deru mesin bis dan peluh penumpang.  Cik Yok duduk bersebelahan dengan Mak Lan ibunya.  Di depan mereka nyala api kompor terlihat tenang menjilati pantat panci wadah sayur.   Sembari memasak untuk sarapan esok hari, keduanya tampak terlibat pembicaraan kecil.  Yakni tentang keinginan Cik Yok tuk menjadi ibu susuan bagi bayi Khot.  Meski Mak Lan hanya menjawab dengan anggukan kepala tapi itu sudah cukup bagi Cik Yok.  Mak Lan tidak bisa menyembunyikan keharuan dan kegembiraan hatinya tatkala Cik Yok mengungkapkan keinginan hatinya.  Anak perempuan yang selama ini telah  ia besarkan dengan tangannya sendiri ternyata memiliki keluhuran budi yang teramat tinggi.   Mak Lan rupanya sangat   memahami keinginan Cik Yok untuk menjadi ibu susuan bagi Muh.  Selanjutnya justru Mak Lan menyuruh Cik Yok membuang jauh-jauh keraguaannya.  Mak Lanpun juga memahami keragu-raguan Cik Yok.  Ia sadar darah Cinanya menjadi penghalang bagi niatnya.  Ia khawatir Khot yang berdarah Jawa tidak dapat menerimanya bahkan ia khawatir jika Khot tersinggung.  Bukan hanya itu saja.  Ia khawatir Khot yang seorang muslim akan merasa terhina karena ibu susuan bayinya adalah seorang penganut Khong Hu Chu.  Malam semakin tergelincir hingga kedua ibu itu bersepakat bahwa semuanya harus dicoba.  Jiwa Muh lebih penting untuk diselamatkan ketimbang memperturutkan keraguan mereka.  Kalaupun Khot marah ia akan menerimanya dan akan meminta maaf atas kelancangannya itu.  Yang terpenting ia telah memperturutkan hati kecilnya sebagai seorang ibu yang tidak kuasa menahan derita seorang bayi.

Di seberang malam yang lain Khot juga tengah bimbang.  Naluri keibuannya mendorongnya untuk mencari ibu susuan bagi bayinya.  Membiarkan Muh tanpa ASI justru akan semakin menambah kepedihan hatinya.  Meski ia saat ini tengah jengkel pada suaminya namun ia tidak mungkin mengorbankan bayinya.  Di Kampung Cinderejo Gilingan ini tidak ada yang tengah menyusui bayi sehngga ia bisa memintanya sebagai ibu susuan bagi Muh.  Satu-satunya orang yang tengah menyusui hanyalah Cik Yok seorang.  Akankah ia meminta Cik Yok menjadi ibu susuan bagi si buah hatinya.  “Apa kata orang nanti jika ibu susuan dari anaknya adalah seorang perempuan Tionghoa” demikianlah ia berandai-andai dalam hati.    “Bukankah ia adalah orang Jawa ?”  sekali lagi ia mencoba bertanya dalam hati.  Di tengah kebuntuan pikirannya tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari bilik kamarnya.  Muh rupanya terbangun.  Ia risih dan merasa terganggu karena bajunya basah oleh pipisnya sendiri.  Rupanya ia mengompol.  Dengan cekatan Khot segera mengganti popoknya dengan  popok yang lain.  Dan iapun segera rebah di samping bayinya untuk meneteki.  Padahal ia tahu itu tidak akan berhasil.  Khot seperti berharap ada keajaiban datang malam itu.  Rupanya keajaiban itu belum berkenan menghampirinya.  ASInya tetap tak mengalir meski hanya setetes pun.  Dan Muh pun kembali menangis tatkala tak setetespun ASI membasahi kerongkongannya.  Tangis Muh mereda ketika karet botol dot berisi susu bayi kemasan pabrik memenuhi mulut mungilnya.

Sekali ini Khhot dipaksa untuk menyingkirkan seabrek perasaan yang mengganjal niat hatinya.  Tidak mungkin ia membiarkan Muh dengan susu kemasan terus menerus.  Selain Ramelan suaminya sudah tidak memberinya uang belanja kepadanya, ia juga khawatir dengan kesehatan Muh karena tubuhnya semakin hari semakin menyusut.  Sementara janin yang ada di dalam perutnya juga membutuhkan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.

Keesokan harinya tampak sepasang kakek dan nenek memasuki halaman rumah Khot.  Rupanya dua orang tua itu adalah Mbah Asiah dan Mbah Jan yakni orang tua Khot.  Keduanya hendak  menjemput Khot untuk diajak pulang kampung.  Kedua orang tua itu prihatin dengan derita yang harus dipikul anak perempuan mereka.  Hari ini Mbah Jan dan Mbah Asiah berencana hendak memanggil Ramelan menantu mereka.  Mereka ingin meminta pertanggungjawabannya.  Meskipun keputusan Khot sudah bulat, bahwa ia hendak meminta cerai dari Ramelan.  Dan iapun bertekad untuk membawa kedua buah hatinya pulang ke kampung halamannya yang jauh dari hiruk pikuk kota.  Tekadnya sudah bulat untuk meminta cerai dari Ramelan lakki-laki yang pernah ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya itu.

Khot pun sadar bahwa bercerai dengan Ramelan berarti ia harus menanggung beban hidup kedua buah hatinya kelak.  “Bukankah bulan-bulan terakhir ini ia juga tidak diberi uang belanja oleh Ramelan ?” “Dan iapun tetap bisa bertahan hidup ?” begitu bisik hati kecil Khot memberi keyakinan pada dirinya.  Khot percaya bahwa ia dapat mengatasi masalah tersebut.  “Bukankah aku bisa menjual ketrampilanku dalam hal masak memasak”  Sekali ini hati kecilnya terus berbicara memberi semangat kepadanya.  Hati kecilnya terus saja membakar semangatnya hingga ia tidak menyadari ketika Mbah Asiah ibunya telah menggendong Muh bayinya yang baru saja terbangun.

Mbah Asiah sungguh tak menyangka jika Muh cucunya teramat kurus.  Sebagai seorang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan Mbah Asiah tahu bahwa Muh cucunya tidak memperoleh ASI.  Namun demikian ia tidak bisa menyalahkan Khot.  Sebagai sesama perempuan ia pun memahami kegalauan hati Khot sehingga ASInyapun ikut mengering.

Hampir separo siang nenek tua itu menggendong cucunya.  Hingga akhirnya ia pun mengusulkan kepada Khot agar mencarikan ibu susuan bagi Muh.  Di kampung Mbah Asiah menitipkan seorang bayi kepada seorang ibu susuan adalah hal yang lazim dilakukan.  Dan Khot pun pernah berpikir untuk melakukan hal serupa sebagaimana diusulkan Mbah Asiah.  Namun masalahnya adalah di kampung Cinderejo Gilingan ini tidak ada seorang ibupun yang tengah menyusui kecuali Cik Yok seorang.

Dengan penuh kehati-hatian Khot menceritakan ganjalan hatinya.  Mungkinkah ia meminta kepada Cik Yok untuk menjadi ibu susuan bagi anaknya ?  Dan apakah Cik Yok tidak akan tersinggung dengan permohonannya tersebut ?  Lama kedua anak beranak itu merenung dan membicarakan berbagai kemungkinan.  Namun demikian pada akhirnya mereka sepakat untuk meminta Cik Yok menjadi ibu susuan bagi Muh.  Minimal sampai ada kepastian tentang surat cerai dari Kantor Urusan Agama.  Selanjutnya Muh akan dicarikan ibu susuan baru di kampong halaman mereka.  Kedua anak beranak itu mencoba menyingkirkan jauh-jauh segala perasaan kecanggungan mereka dengan menyatakan bahwa ini adalah keadaan darurat.  Menyelamatkan nyawa seorang anak lebih penting ketimbang kesukuan, kebangsaan atau keyakinan mereka.  Asal Cik Yok bersedia, ke-Tionghoaan Cik Yok tidak akan mereka permasalahkan.  Demikianlah kedua anak beranak itu mencoba memberi argument atas pilihan mereka.  Sekali lagi mereka berjanji dalam hati bahwa nyawa Muh lebih berarti ketimbang kesukuan atau perasaan malu dan takut.  Kalaupun Cik Yok marah dan tersinggung atas permohonan mereka, Khot akan dengan lapang hati menerimannya.  Lagian antara dirinya dan Cik Yok telah saling mengenal bahkan teramat dekat.

Belum usai keduanya membicarakan kesanggupan dan sikap Cik Yok jika keduanya memohonnya untuk menjadi ibu susuan bagi Muh, tiba-tiba Cik Yok sudah berdiri di ambang pintu sembari menggendong Han bayinya.  Senyumnya mengembang ramah.  Disalaminya Mbah Asiah dengan penuh suka cita bagai ibunya sendiri.  Selanjutnya ketiga perempuan itu mulai terlibat perbincangan yang hangat , mulai saling menanyakan kabar masing-masing sampai dengan nasib yang menimpa Khot.  Dan akhirnya perbincangan itu harus terhenti oleh tangis keras Muh.  Rupanya ia terbangun, mungkin karena diserang rasa lapar.  Khot pun bergegas menghampiri Muh dan menggendongnya.  Sementara Mbah Asiah bergegas melangkah menuju dapur mengambil botol minumnya Muh.

Di tengah-tengah kerisauan hatinya Khot, tiba-tiba tangan Cik Yok telah menyentuh pundaknya.  Matanya mengisyaratkan sesuatu dan Khot tidak mengerti apa arti isyarat tersebut.  Tanpa menunggu jawaban dari Khot diraihnya Muh dari tangan Khot.  Dan ia pun segera membuka kancing bajunya.  Disusuinya Muh dengan penuh kasih sayang.  Bayi Khot yang sudah sedari tadi menangis kehausan segera menghisapnya dengan lahap hingga kenyang dan akhirnya terlelap kembali.

Begitulah kejadian itu  berlangsungberulang kali.  Setiap kali Muh menangis Khot segera mengantarkannya kepada Cik Yok atau sebaliknya Cik Yok yang mendatangi Muh bayi Khot.  Tak ada lagi kejengahan dalam diri Khot dan Cik Yok.  Keduanya diikat oleh persaudaraan sejati.

Meski berbeda bangsa seorang ibu tetaplah ibu yang mencintai setiap anak dengan penuh kasih sayang tanpa berharap imbalan apapun.  Kasihnya mengalir bersama darah dan nafas setiap anak manusia.

Comment

News Feed