by

Gunawan Setiawan, “Batik itu proses.. !”

Di kota Surakarta atau Solo lebih dikenal demikian, batik dikenal dengan 2 jenis kain batik yaitu batik dan lurik, untuk batik yang berasal dari kota Solo maupun Jogjakarta biasanya banyak kalangan pencinta batik menyebutnya dengan batik kasultanan dengan ciri khas warna yang digunakan adalah warna biru, coklat dan putih.

Dan, masing-masing warna memberikan arti filosofi tersendiri. Warna biru melambangkan bumi warna coklat melambangkan api sedangkan warna putih melambangkan angin dan air. Ciri khas batik Solo yang paling banyak biasanya menggunakan warna sogan, yakni kombinasi warna coklat muda, coklat tua, coklat kekuningan, coklat kehitaman, dan coklat kemerahan.

Koleksi batik andalan Rumah Batik Gunawan Setiawan
Koleksi batik andalan Rumah Batik Gunawan Setiawan

Dan terkenal dengan corak pola tradisionalnya baik batik cap mupun batik tulis. Terkenal dengan pola sidomukti dan sidoluhur. Kekhasan batik Solo Ini telah terkenal sampai ke mancanegara dan memiliki nilai jual yang tinggi dan bahkan menjadi salah satu sektor ekspor andalan dari para pengrajin batik Solo.

Bicara batik itu bicara proses, bukan hasil. Ungkap Gunawan Setiawan (43) saat ditemui JO, di hari batik nasional Kamis (2/10/2014), pengusaha batik dan owner Batik Gunawan Setiawan adalah pemrakarsa Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman, Solo. Jawa Tengah ini yakin, orang yang mengetahui dan memahami bagaimana proses membatik akan menghargai batik.

Proses Batik
Dalam pembuatan batik, menurut Bapak empat anak ini, ada empat cara pembuatannya, yaitu dengan cara ditulis dengan canting yang biasa di sebut dengan batik tulis, dengan cara di cetak dengan cap disebut batik cap, dengan cara diikat dengan tali atau benang dinamakan batik ikat atau jumputan dan dengan cara dicetak dengan screen.

Kualitas jadi prioritas utama Batik GS
Kualitas jadi prioritas utama Batik GS

Pembuatan motif pada batik tulis dibuat dengan cara memberikan malam melalui alat canting/kuas ke atas permukaan kain yang telah digambar sebelumnya. Sedang pemberian motif pada batik cap dibuat dengan menggunakan cap atau stempel logam yang permukaannya telah diberi malam lalu dicetakkan pada permukaan kain.

Pemberian motif pada printing dibuat dengan cara mencetakkan larutan napthol yang telah dikentalkan ke atas permukaan kain dengan menggunakan alat rakel. Sedangkan pemberian motif pada batik ikat, motifnya diikat-ikat dengan tali plastik atau benang hingga menjadi motif yang diinginkan. Proses berikut adalah pencelupan kain ke larutan naptol, garam warna dan air pembilas. Khusus untuk printing langsung dicelupkan ke larutan garam warna. Untuk menghasilkan warna batik yang baik proses pencelupannya harus diakukan berulang-ulang.

Proses selanjutnya disebut proses pelorotan malam. Yakni kain yang telah selesai pada proses pencelupan, dicelupkan kembali ke dalam air panas yang telah diberi bubuk soda abu atau soda ash. Benda-benda pakai yang dihasilkan dari kerajinan ini adalah kain, selendang, taplak meja, sprei, sarung bantal, hiasan dinding, gorden dan lain-lain.

Kampung Wisata
Usaha untuk melestarikan dan mengembangkan batik melalui klaster Kampung Batik Kauman dan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Solo, yang kini menjadi salah satu ikon Kota Solo sebagai kampung wisata batik.

Batik GS selalu kreasi motif dan produk up to date
Batik GS selalu kreasi motif dan produk up to date

Untuk mendukung kampung wisata batik, sejak 2006 didirikan museum batik di Kampung Batik Kauman. Di museum yang menempati rumah peninggalan salah satu saudagar batik yang berjaya pada masa lalu itu dipamerkan ratusan lembar kain batik berusia diatas 35 tahun dan berbagai peralatan membatik.

Selain pelatihan membatik secara gratis bagi tetangga di Kampung Batik Kauman, Gunawan juga aktif membagikan ilmu batik kepada berbagai kalangan. Tamu-tamu yang datang berbelanja di Rumah Batik Gunawan Setiawan selalu diajak menyaksikan proses membatik di tempat produksi batik yang juga rumahnya.

“Konsumen harus tahu proses membatik,” katanya. Karena menurutnya, ini cara paling mudah untuk mengenalkan batik kepada semua orang disamping mengembangkan rumah produksi batik untuk tempat belajar membatik bagi kalangan pendidikan, termasuk dari luar negeri.

Inovasi produk upaya industri kreatif mempertahankan pasar. Dan, batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang terus mengalami perkembangan, Gunawan pun tak berhenti mengembangkan batik. Ditahun 2008 Gunawan memperkenalkan motif baru batik yang diambil dari beberapa motif pamor keris yang diangkat dari pola pamor keris.

“Motif pamor keris yang sarat makna dan filisofi sangat mungkin dikembangkan di kain, kini kita memproduksinya” ujarnya.

Sekitar 12 motif pamor keris telah diproduksi rumah batiknya, mulai motif udan, pari sawuli, ron kendhuru sungsang, winengku, blarak sineret, pandhan iris, tunggul kukus, tritik, walang sinundukan, ron jagung, bendha segada, dan ron kendhuru sinebit.

Proses Panjang
Lahir dari keluarga pembatik membuat Gunawan sangat paham dengan proses membatik. Sejak tahun 1981 dia bersama kakaknya, Muhyidin dan Uswatun Hasanah, melanjutkan usaha batik orangtuanya, Muhammad dan Siti Badriyah.

Berdagang batik, menurut Gunawan, tidak sekadar berbisnis atau soal untung rugi. “Batik merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dikembangkan, dan dilindungi sampai kapan pun,” tegasnya.
Salah satu cara melindungi dan menghargai batik adalah menanamkan kebanggaan menggunakan batik kepada setiap orang.

Setiap hari Batik GS selalu dikunjungi turis  lokal dan mancanegara
Setiap hari Batik GS selalu dikunjungi turis lokal dan mancanegara

Dengan demikian batik tidak lagi dipandang hanya sebatas busana yang dipakai pada momen tertentu, tetapi batik menjadi kebutuhan sehingga ada kewajiban mengenakannya setiap saat dalam berbagai aktivitas.

Sekarang ini banyak orang menikmati hasil dari batik, terutama lewat busana, tetapi tidak banyak yang mengetahui, apalagi mengerti bahkan memahami proses membatik. “Tak cuma itu, hanya sedikit yang bisa membedakan mana batik tulis halus, batik cap, dan tekstil motif batik,” papar Gunawan

Padahal, di pasaran, tekstil bermotif batik kini mendominasi. Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan batik tulis halus dan batik cap. Kecanggihan teknologi juga membuat tekstil bermotif batik semakin mirip sehingga orang makin susah membedakan dengan batik tulis halus dan batik cap.

“Tahun 1990-an orang Solo masih bisa bilang, ini printing, dengan cara membolak-balik kainnya. Cukup melihat motif bagian luar dan dalamnya. Kalau di luarnya bagus dan bagian dalam kelihatan tipis, dibilang itu printing,” ujarnya.

Minimnya pengetahuan orang tentang pembuatan batik mendorong Gunawan untuk terus menyosialisasikan batik kepada semua kalangan, termasuk mendorong lahirnya perajin-perajin baru batik di Kampung Kauman yang dulu pernah memiliki saudagar-saudagar batik yang berjaya.

Sejak tahun 2006 pemilik Rumah batik Gunawan Setiawan ini, bersama beberapa pengusaha batik dan pemerhati batik, membentuk Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman untuk melestarikan dan mengembangkan batik.

Paguyuban ini memberikan pelatihan batik secara gratis kepada masyarakat sekitar Kampung Kauman yang berada di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pelatihan membatik diberikan dengan mengajarkan teknik-teknik membatik, mulai dari menggambar motif/corak batik hingga proses akhir membatik. Pelatihan menggandeng lembaga sosial kemasyarakatan, akademisi dan mitra bisnis pengusaha batik yang memiliki usaha garmen.

Siap Kompetisi
Menghadapi dibukanya pasar bebas Asean pada 1 Januari 2015 mendatang, Suami Dian Sari ini optimis, kalau usahanya akan tetap eksis, melalui peningkatan kualitas produk serta kreatifitas dalam meretas pasar bebas. Kerajinan tak pernah bisa mati. Industri kerajinan adalah industri yang memadukan keterampilan tangan dengan nilai seni dan keindahan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan. – ian

Rumah Batik Gunawan Setiawan
Rumah Batik Gunawan Setiawan

Biografi
Nama : Gunawan Setiawan
Lahir : Solo
Pendidikan : S-1 Manajemen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Kegiatan organisasi/pelatihan :
Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman
– Berbagai Pelatihan Membatik, seperti di Nanggroe Aceh Darussalam untuk korban Tsunami, Festival Batik Nusantara (2007).

-Mengajari membatik bagi penerima bea siswa seni dan budaya Pemerintah Indonesia dari negara-negara ASEAN (2006)

Batik Gunawan Setiawan – Jl. Cakra 21 Kampung Wisata Batik Kauman Solo 57122  Jawa Tengah – Indonesia   Tlp. +62 271 632214 Fax. +62 271 667659   – batikgs@yahoo.com   – www.batikgunawansetiawan.com

Comment

News Feed