by

Kang Mus Suplo

Tuhan…! Jangan  Cabut Nyawa Kang Mus Ya,……..doa Mbok Tun pagi subuh tadi.

Orang-orang di pedukuhan Benawa itu memanggilnya dengan sebutan Kang Mus Suplo, artinya Mus yang bodoh.  Padahal nama aslinya adalah Mustofa.  Entah mengapa orang-orang menyebutnya demikian.  Dan ia tidak merasa risih dengan panggilan tersebut.

Kang Mus Suplo hidup di sebuah pedukuhan di tengah-tengah hutan negara.  Untuk sampai di pedukuhan Benawa tersebut, orang harus berjalan kaki sejauh setengah hari menyusuri lebatnya hutan Pinus.  Sudah beberapa hari ini Kang Mus Suplo hanya bisa tergeletak meringkuk tak berdaya di bilik rumahnya.  Papan rumahnya yang sudah mulai compang-camping dimakan rayap semakin menyiksanya saja.  Pasalnya hawa dingin dengan genitnya menerobos menjilati demam Kang Mus Suplo.  Beberapa hari yang lalu istrinya  telah membawa Kang Mus Suplo ke Polindes.  ”Malaria atau mungkin demam berdarah”, kata  bidan desa yang memriksanya.  Andai saja pagi itu Kang Mus tidak pergi ke hutan mungkin saja ia tidak akan terserang demam tinggi seperti sekarang ini.

Pagi itu seperti biasa ia berangkat ke hutan yang terletak di seberang desanya.  Kang Mus tidak punya pilihan lain selain harus pergi ke hutan.   Keluarganya sudah tidak memiliki persediaan pangan lagi.  Pagi itu ia bergegas untuk pergi mengumpulkan ranting-ranting kering, daun, umbi-umbian liar dan rumput agar bisa ditukar dengan beras dan beberapa kebutuhan dapur lainnya.  Kang Mus sadar bahwa pergi ke hutan pada musim penghujan seperti ini berarti mengantar nyawanya ke neraka.  Memang setiap musim penghujan tiba, hutan di seberang desanya mesti berubah menjadi sarang Nyamuk Demam Berdarah ataupun malaria yang mematikan itu.  Dan puluhan nyawa telah melayang sia-sia.  Pasalnya adalah tempurung-tempurung kelapa penampung Getah Pinus telah berubah fungsinya menjadi tempat berkembangbiaknya Nyamuk.

Namun demikian demam Kang Mus Suplo tidak hanya ia pikul sendiri tetapi Istri dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil pun  merasakan kesakitannya.  Bahkan bukan hanya mereka  saja, Mbah Urip, Mbah Sur, Mbok Tun, Mbok Rejo dan Mbok Karso juga ikut merasakan erangan Kang Mus.  Padahal mereka adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan pertalian darah dengan Kang Mus Suplo.  Bagi kelima orang lanjut usia itu, Kang Mus Suplo adalah orang terbaik yang telah mereka kenal.  Pasalnnya kelima orang tua jompo itu hidup dari cucuran keringat Kang Mus Suplo.

Di sela-sela kemelaratan yang menimpa hidupnya Kang Mus Suplo masih saja menyisakan tenaga untuk mencangkul sebidang tanah kosong untuk menyediakan pangan bagi kelima orang jompo yang menjadi tetangga dekatnya tersebut.  Jagung, Ketela Pohon dan beberapa sayuran ia tanam dan ia rawat dengan penuh kegembiraan.  Tujuannya tak lain agar kelima orang jompo yang tidak memiliki sanak saudara tersebut dapat memanen hasilnya sehingga pangan kesehariannya ada yang menjamin meskipun sangat sederhana.  Sesekali waktu anak dan istrinya secara bergiliran menjenguk kelimanya satu persatu.  Tak hanya itu saja yang dilakukan oleh Kang Mus Suplo, terkadang ia harus mencuri kayu di hutan ketika melihat rumah kelima orang tua jompo ini butuh diperbaiki.  Sebuah pekerjaan yang penuh resiko dan menyerempet bahaya.  Salah-salah ia dapat menjadi sasaran timah panas senjata mantri hutan.  Lagi-lagi ia tidak memiliki pilihan lain untuk ikut mengurangi  kesengsaraan yang menimpa tetangganya tersebut.

Kadang-kadang iapun juga menyalahkan dirinya sendiri, mengapa ia memiliki jiwa yang begitu peduli, padahal ia sendiri juga hidup dalam jeratan tali kemiskinan.

    Solidaritas dan keterpaksaan  adalah karakteristik Kang Mus Suplo.  “Kang Mus wis nglungguhi rasa miskine, yaiku wong kang wis  Nrimo ing pandum lan ora nggrangsang.”  Begitulah orang Jawa memberikan predikat kepada manusia semacam Kang Mus Suplo tersebut.

Kang Mus Suplo
Cerpen oleh Noerjoso
Juli 2019
iKabari – Media Jejaring Umat

Comment

News Feed