by

Kopiah Mbah Karmain

Matanya sembab berkaca-kaca.  Beberapa bulir air mata mulai membasahi pipinya yang keriput.  Tangannya yang dekil gemetar memegangi kopiah hitam itu.  Semakin lama ia menatap kopiah hitam itu, air matanya justru semakin deras mengalir  membasahi pipinya.
“Pripun Mbah ?, kopiahe siyos ingkang pundi ?” tanya pemilik  toko Global menanyainya. Namun ketika dilihatnya Mbah Karmain tengah  berdiri mematung sembari matanya sembab oleh air mata, pemilik toko tersebut mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.  Dibiarkannya Mbah Karmain dengan leleran air matanya.  Ia pun lantas meninggalkan Mbah Karmain dalam kecamuk pikirannya sendiri.
Setelah  suasana toko mulai agak sepi, barulah pemilik toko tadi menghampiri kembali  Mbah Karmain yang masih berdiri mematung di pojokan.  Kali ini ia lebih berhati-hati.  Volume suaranya diatur sedemikian rupa sehingga terdengar seperti setengah berbisik.  “ingkang niki sae lho Mbah ?” kata pemilik toko Global yang dikenal dengan nama Aini tersebut membuka percakapannya.  Sementara Mbah Karmain hanya mengangguk sembari tangannya gemetar menyeka sisa air mata yang masih tergenang di matanya.
“Wonten nopo tho Mbah ?”  “Masuk anginn nopo pripun Mbah, monggo pinarak mlebet kemawon“  kata Aini mempersilahkan Mbah Karmain untuk masuk ke dalam kantor tokonya sembari memanggil salah satu karyawannya untuk membawa Mbah Karmain masuk.  Mbah Karmain menggeleng tapi kakinya tetap melangkah ketika salah seorang karyawan toko menuntunnya masuk ke dalam kantor toko.  Selanjutnya karyawan toko tersebut tampak dpersilahkan Mbah Karmain untuk duduk di salah satu kursi yang trsedia di ruangan itu.  Tak berselang lama kemudian Aini tampak masuk ruangan tersebut sembari memberi isyarat kepada salah satu karyawannya agar menggantikannya di meja customer service.
“Masuk angin nggih Mbah ?”  tanya Aini sekali lagi dengan suara lirih sembari menyodorkan sebentuk minyak angin kepada Mbah Karmain.  Yang ditanya bukannya menjawab pertanyaan tetapi justru malah menangis sesenggukan.  Demi melihat tangis Mbah Karmain tersebut Aini pun segera mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Tangannya dengan cekatan segera meraih tumpukan lembaran nota-nota  yang tergeletak di meja kerjanya.  Sedetik kemudian ia telah larut dalam pekerjaan rutinnya.  Matanya mulai mengeja angka demi angka yang tertera di setiap lembaran nota.  Sesekali matanya melirik ke arah Mbah Karmain yang masih sesenggukan. Begitulah cara Aini memperlakukan pelanggan tokonya.  Tak heran jika pelanggannya merasa nyaman dan menganggap Aini sebagai keluarganya sendiri.
“Nopo Gusti Allah purun maringi pangapura dumateng kulo nggih nak ?” tiba-tiba Mbah Karmain bersuara dengan terbata-bata.  Di pojok yang lain,  Aini menatap Mbah Karmain lekat-lekat sembari menduga-duga ke arah mana pembicaraan Mbah karmain.
“Tigang dasa tahun kepengker, wayahipun prepagan riyadin kirang kalih dinten.”  Mbah Karmain melanjutkan ceritanya atau lebih tepatnya mengawali ceritanya.
Uang hasil penjualan Gabah panenan kemarin sudah ludes untuk belanja kebutuhan dapur dan beberapa barang keperluan lebaran.  Termasuk baju baru buat istri dan keempat anaknya.  Sementara ia sendiri mengalah, karena ia sudah mendapat baju koko dari Pak Khaji.  Mbah Karmain tidak hanya mendapat hadiah baju koko saja tetapi ia juga mendapatkan sarung dan sandal merk Lily kesukaannya.  Maklumlah Mbah Karmain hanyalah seorang buruh tani dengan hasil yang sangat pas-pasan.  Sementara istrinya hanyalah buruh tandur dan panen.  Untunglah anak pertama dan kedua Mbah Karmain mendapatkan beasiswa dari Pak Haji, sehingga penghasilannya sebagai buruh tani dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.  Bahkan iapun dapat memelihara beberapa ekor Kambing untuk tabungan keluarganya.
Namun begitu ia merasa masih saja ada yang kurang dalam menyambut lebaran kali ini. Pasalnya kopiah satu-satunya yang ia miliki sudah tidak layak lagi.  Selain beludrunya sudah mengelupas di sana-sini,  jahitannyapun sudah lepas.  Tapi untuk membeli kopiah yang baru,Mbah Karmain muda sudah tak mengantongi sepeser uangpun.  Kopiah termurah sekalipun tidak mungkin ia beli, apalagi yang mahal.
‘Rasanya tidak mungkin lebaran  nanti aku masih memakai kopiah butut ini ‘.  Gumam Mbah Karmain muda sambil menimang-nimang kopiah bututnya itu.  “Tapi bagaimanakah caranya agar aku dapat memiliki kopiah baru  saat lebaran nanti ?”.  “Kalau harus meminta kepada Pak Khaji rasa-rasanya sudah tidak mungkin lagi”.  “Aku malu untuk memintanya lagi.”  Pikiran Mbah Karmain sibuk bercakap-cakap sendiri.
Akhirnya setelah lama merenung, Mbah Karmain tersenyum gembira.  Wajahnya tampak berbinar-binar.  Rupanya ia sudah menemukan cara untuk mendapatkan kopiah baru.  Bergegas ia pun segera mengambil sandal dan kopiah bututnya yang sedari tadi tergantung di dinding rumah.  Ia pergi jalan kaki kearah timur.  Tempat yang ia  tuju adalah pedagang kopiah di emperan pecinan Kota Magelang.  Ia  tahu pada saat-sat seperti ini pedagang tersebut ramai dikerubungi pembeli.  Ia pun berlangganan di pedagang itu semenjak  ia masih nyantri di pesantren Kedung Suwung Magelang.  Peluh bercucuran tak ia hiraukan.  Tujuannya hanya satu.  Menemukan pedagang kopiah di emperan pecinan Kota Magelang.  Adzan sholat Dhuhurpun tak ia hiraukan.  Padahal jarak rumah dengan tempat yang ia tuju kurang lebih berjarak 7 Km.  Kala itu memang belum ada angkutan seperti sekarang ini.  Berjalan kaki sejauh 10 km bukanlah sesuatu yang berat.
Wajahnya berseri-seri tatkala dari krjauhan ia telah melihat pedagang kopiah yang ia maksud.  Tetapi ia tidak segera langsung menghampiri pedagang tersebut.  Langkah kakinya justru berhenti di salah satu emperan toko yang lain.  Kemudian ia duduk beristirahat ssembari tangannya sibuk menyeka peluh yang mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya.  Ada segurat keraguan  menghiasi wajahnya.
Setelah beberapa saat beristirahat, Mbah Karmain muda segera bangkit dan bergegas menghampiri pedagang kopiah tersebut.   Rasa ragunya segera ia tindih dengan keinginannya yang besar untuk memiliki kopiah baru.  Segera ia membaur mengerumuni dagangan yang tergelar tidak teratur bersama dengan calon pembeli yang lain.  Sembari berjongkok, tangannya  mulai  sibuk memilih-milih kopiah.  Beberapa kali ia mencobanya sembari menanyakan harganya.  Dari sekian banyak kopiah yang ia coba, ada satu kopiah yang sangat ia ingin miliki.    Harganya tidak terlalu mahal tapi tampak pas dengan bentuk wajahnya.  Sementara di depannya pedagang sibuk melayani pembeli yang lain.
Kembali keraguan melintas di benak Mbah Karmain muda, tapi keraguan itu segera ia pupus ketika dilihatnya beberapa pembeli yang ada di sampingya beranjak pergi meninggalkan pedagang tersebut.  Salah satu dari mereka telah membayar secara berombongan.   “ Inilah kesempatannya.”  Pikir Mbah Karmain.  “Mumpung pedagangnya sedang lengah.  Tampaknya pedagang itu menganggap Mbah Karmain adalah juga salah satu anggota dari rombongan tersebut.”  Demikian Mbah Karmain muda membatin sambil matanya sibuk mengawsi situasi.  Dan niatnya untuk nguthilpun terlaksana.  Mbah Karmain mudapun beranjak meninggalkan pedagang kopiah bersama rombongan yang tak satupun ia kenali.  Di lengannya terjepit sebuah kopiah baru berwarna hitam.
Arto hasil panenan pantun sampun telas kangge tumbas kebutuhan riyadin.  Nanging Kopiah kulo ingkang sampun risak dereng saged nganyari malih.  Kulo isin menawi riyadin mangke kulo taksih ngangge Kopiah ingkan sampun risak meniko.  Ajeng tumbas Kopiah kulo mpun mboten nyepeng arto malih”  Dengan lancar Mbah Karmain bertutur dan Aini hanya terdiam membisu mendengarkan patah demi patah kalimat Mbah Karmain.
“saklanjutipun kulo nggadahi niat nyolong Kopiah wonten salah satunggaling bakul Kopiah.  Bakul Kopiah wau manggene wonten emperan Pecinan Magelang.  Wayah prepegan ngaten meniko ramenipun mboten kanten-kantenan.  Menawi badhe nguthil bakal mboten konangan.  Mpun !  Kulo mantep ajeng nguthil Kopiah supados riyadin mangke kulo saged ngangge Kopiah enggal mboten Kopiah bolong niki.
Sip ! Batin kulo ngomong ngaten naliko ningali kios kopiah ingkang rame sanget.  Saklanjutipun kulo melu ngrubung bakul kopiah wonten emperan Pecinan Kala wau kados sanesipun.  Kulo pura-pura milah-milih kopiah lan njajal siji mboko siji.  Radi dangu kulo pados kesempatan lenanipun bakul kopiah wau.  Mboten patio dangu kesempatan wau dugi.  Sesarengan kaliyan tiyang-tiyang ingkang sampun mayar lan badhe mbeto wangsul kopiahipun.  Kulo pura-pura kados sampun mbayar kopiah ingkang kulo cangking.  Bakul kopiah wau mboten ngertos menawi kulo dereng mbayar.  Aman !  Batin kulo njerit sesarengan kaliyan lolosipun kulo saking pengawasanipun tiyang-tiyang termasuk bakul kopiah.  Kulo enggal-enggal wangsul kanthi mbetho kopiah enggal.
Namun demikian rupanya Gusti Allah tidak melepaskan Mbah Karmain begitu saja.  Setiap kali ia akan membeli Kopiah pikirannya selalu teringat peristiwa masa lalu tersebut.  Meski ia sudah berusaha berbuat baik guna menghapus noda kecil tersebut, tetap saja peristiwa itu membekas dan membuatnya cemas sepanjang waktu.  Lebaran bagi Mbah Karmain adalah siksaan bathin.  Padahal bagi kebanyakan orang lebaran adalah hari kemenangan.  Pernah suatu hari setahun setelah peristiwa itu Mbah Karmain ingin menemui pedagang tersebut untuk meminta maaf dan membayar harga kopiah tersebut.  Bukan hanya itu saja ia juga berniat memberi  hadiah kepada pedagang tersebut dengan seekor kambing.  Malang bagi Mbah Karmain, pedagang tersebut ternyata sudah meninggal dan tak satupun tahu dimana ia tinggal.

Hari ini, orang mengenal Mbah Karmain adalah sosok orang tua yang sukses dan penuh kemegahan karena keempat anaknya telah menjadi pejabat negara.  Padahal bagi Mbah Karmain kesemuanya itu tak berarti apa-apa.  Karena semuanya itu tak akan pernah mampu menghapus kecemasan akibat perbuatannya ngutil kopiah yang telah ia lakukan di masa lalu.
Gusti Allah mboten sare !!!.  Mugi-mugi Allah paring pangapunten dhumateng Mbah Karmain.

Kopiah Mbah Karmain
Cerpen oleh Noerjoso

iKabari – Juli 2019

Comment

News Feed