by

SAVITRI DAN SATYAWAN

Pesta pernikahan agung itu baru saja usai.  Rakyat Kerajaan Niskala telah kembali ke kampung halamannya  masing-masing.  Hari-hari kemarin, tak terkecuali seluruh rakyat Kerajaan Niskala tumpah ruah di alun-alun kota raja menikmati seluruh panganan dan hiburan yang disediakan untuk seluruh rakyat.  Tidak kurang dari 7 hari,rakyat Kerajaan Niskala dijamu oleh Baginda Raja Dharma Putra Dewa.  Mereka semua disambut dan dilayani bak tamu-tamu kehormatan negara.

Malam kali ini terasa lebih pekat daripada biasanya.  Kesenyapan mengendap-endap merayapi malam langit Niskala.  Kesunyian seakan tak ingin mengganggu istirahat sepasang pengantin agung Kerajaan Niskala tersebut.  Dari seberang kesunyian, Lamat-lamat terdengar suara lonceng dari menara kala.  Sebuah pertanda bahwa waktu telah bergulir mendekati uujung malam.  Namun begitu sepasang pengantin itu masih saja duduk bersila berhadap-hadapan.  Keduanya tampak asyik mengeja huruf demi huruf yang tertulis di dalam lembaran kitab Nawang Sari ditemani oleh nyala lentera minyak zaitun.  Kitab Nawang Sari adalah mahar yang diberikan Satyawan kepada Savitri.  Dan iapun berjanji untuk mengajarkannya sebelum menyentuh kulit Savitri.  Savitri dengan khusyuknya mengikuti kalimat demi kalimat yang diucappkan oleh Satyawan suaminya.  Aneh ! semakin ia ikuti kalimat demi kalimat yang tertera di dalam Kitab Nawang sari tersebut, tubuhnya terasa terbang sejengkal demi sejengkal sehingga kini ia terasa dapat melihat seluruh hamparan bumi dengan berbagai tingkah polah manusianya.
Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Savitri, Satyawan justru merasakan hal yang sebaliknya.  Tubuhnya terasa semakin berat.  Berkali-kali ia menghela nafas panjang demi mengisi rongga paru-parunya yang seolah-olah telah menyempit.  Matanya seperti diserang oleh rasa kantuk yang tak terperikan.  Berkali-kali ia berusaha untuk menegakkan punggungnya namun begitu semua usahanya tersebut terasa nihil.  Tulang belakangnya seperti telah luluh lantak dan enggan untuk menyangga tubuhnya.  Padahal sewaktu di padepokan Asoka Dharma, punggung itulah  yang setiap pagi dengan setia menggendong kayu bakar dari hutan Gandarwa.  Demi melihat hal tersebut, Savitri bergegas hendak meraih tubuh kekasihnya.  Namun sebelum tangannya menyentuh kulit Satyawan , ia segera menyadari bahwa iapun telah berjanji untuk tidak menyentuh kulit Satyawan sebelum ia mengkhatamkan Kitab Nawang Sari.  Hatinya mendidih bercampur aduk antara keinginannya untuk menolong suaminya dan keteguhannya untuk menggenggam janjinya.  Belum selesai dengan rasa bimbangnya, tiba-tiba saja dari jendela kamarnya telah hadir sesosok pria tampan yang badanya seperti diselimuti cahaya tipis berwarna hijau lembut.

‘engkaukah Bathara Yamadipati itu ? Tanya Savitri kepada lelaki tampan yang tiba tiba telah muncul di hadapan mereka berdua.  Sementara Satyawan hanya bisa duduk bersila sembari memejamkan matanya.  Nafas satyawan terlihat memburu dan tersengal-sengal.  Lelaki tampan yang disapa dengan nama Yamadipati itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.  Terdengar bunyi gemerincing yang keluar dari hiasan-hiasan mahkotanya tatkala lelaki tampann itu menganggukkan kepalanya.  Aneh !  Suara gemerincing yang keluar dari hiasan-hiasan mahkota itu tiba-tiba saja telah membuat kelu lidah Satyawan.  Berkali-kali Satyawan berusaha untuk mengucapkan sesuatu tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan-erangan kecil saja.

‘Engkau memang seorang putri mahkota yang tidak hanya cantik tetapi juga seorang yang waskita.  Meski sebelumnya kita belum pernah bertemu tetapi engkau dapat mengenaliku dengan sangat baik.  Seolah-olah kita sudah sangat sering bertemu.  Maafkan aku Savitri, sebagaimana yang telah tertulis dalam suratan takdir bahwa malam ini adalah batas akhir kehidupan Satyawan suamimu.  Relakanlah aku menjemput pulang roh  suamimu.  Maafkan  diriku Savitri !  Aku hanya menjalankan titah suratan takdir tersebut.  Engkau sendirilah yang telah  menentukan suratan takdir seperti ini.  Karena sesungguhnya suratan takdir dapat engkau pilih dengan bebas berdasarkan pengetahuan yang engkau miliki.  Bukankah sebenarnya engkau dapat memilih suratan takdir yang lain ?  Sebab Juru nujum istana telah memberitahukan  kepadamu bahwa umur Satyawan suamimu hanya tinggal 7 hari semenjak pernikahan kalian. Dan hari ini adalah hari ke 7 pernikahan kalian.’  Kata Yamadipati sambil menahan haru.  Yamadipati sepertinya tengah mengajak Savitri untuk menerima kenyataan suratan takdirnya.  Rasa kemanusiaan itu seperti hendak ditindihnya dengan rasionalitas sebab akibat agar tidak memberontak.

‘Engkau tidak perlu merasa sungkan apalagi bersalah Tuan !  Aku memang telah memilih suratan takdir ini.  Karena aku tidak mungkin menjilat kembali ucapanku.  Ucapanku adalah sabda panditha Ratu.  Dalam sayembara memanah panji tama Satyawanlah pemenangnya.  Dan sebagai pemenang sayembara Satyawan berhak memperoleh hadiahnya.  Kebetulan akulah hadiah dari sayembara memanah Panji Tama Kerajaan Niskala itu.  Jadi aku harus dapat menerima kenyataan bahwa Satyawan adalah suamiku meskipun umurnya tinggal 7 hari.  Dan jangan lupa bahwa pilihanku atas Satyawan itupun adalah suratan takdir juga’  jawab Savitri penuh ketegasan.  Mendengar jawaban Savitri yang penuh keikhlasan itu, Yamadipati hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.  ‘Hanya orang-orang yang telah menemukan kesejatian hidup  sajalah yang dapat menerima kenyataan atas suratan takdirnya’”  Gumam Yamadipati sammbil tak henti-hentinya memandangi wajah pucat Satyawan.

‘Tetapi bukankah sebagai seorang Putri mahkota kerajaan Niskala engkau dapat membatalkan hasil sayembara ini ?  Jangankan hanya membatalkan hasil sayembara, meminta nyawa seseorang saja engkau mampulakukan.’ Kata Bathara Yamadipati kepada Savitri.  Terlihat Bathara Yamadipati tengah menguji kerelaan hati Savitri meski ia tahu bahwa ujian itu akan sia-sia saja.  Kesadaran Savitri tak akan  goyah oleh rasionalitas apapun.

‘Dharmaku sebagai seorang putri mahkota tidak mengajarkan begitu. Sebagai seorang ksatria aku harus memegang janji meskipun nyawaku sebagai tebusannya.’ Jawab Savitri penuh ketegasan.  Mendengar jawaban Savitri, hati Yamadipati seperti tertusuk sembilu.  Iapun bertanya dalam hati : apakah ibaku ini juga bagian dari suratan takdir juga ?  Lalu di manakah dharmaku sebagai Yamadipati yang setia pada suratan takdir itu “   Kali ini justru Yamadipatilah yang mulai didera kebimbangan.

‘Baiklah Savitri !  Sebelum aku membawa pulang roh suamimu aku akan memberimu 3 buah permohonan  sebagai hadiah atas kesetiaanmu kepada dharma luhur seorang ksatria.  Dan aku akan kabulkan seluruh permohonanmu itu.’  Kata Yamadipati sambil berjalan mendekati Satyawan.  Sedetik kemudian tangannya telah mengelus kepala Satyawan.  Satyawanpun segera mendongakkan kepalanya.  Kedua telapak tangannya ia pertemukan di depan dadanya sembari memberi gerakan penghormatan kepada Yamadipati.  Yamadipati hanya dapat menganggukkan kepalanya demi membalas penghormatan Satyawan tersebut.  Yamadipati sungguh tak dapat menyembunyikan rasa ibanya kepada nasib Satyyawan.  Ia sendiri tak mengerti, dari manakah terbitnya rasa iba yang telah menyesaki titahnya sebagai Bathara Yamadipati itu.  Sekali lagi Yamadipati bertanya kepada dirinya sendiri, adakah titahku sebagai Yamadipati telah ditindih oleh suratan takdir yang tak kuasa ia lawan ?
Savitripun terdiam sejenak.  Dahinya mengerut tampak memikirkan sesuatu.  Setelah agak lama ia merenung, wajahnya kini tampak berbinar-binar penuh kegembiraan.  Tampaknya ia telah menemukan 3 permohonan yang dihadiahkan oleh Yamadipati kepadanya.

‘Ayolah Savitri. Waktuku sudah hampir habis.  Segeralah ajukan 3 permohonanmu itu.’  Perintah Yamadipati dengan suara penuh keharuan.  Kali ini suara Bathara Yamadipati terasa bergetar menahan keharuannya.  Padahal Sebagai titah seorang Yamadipati seharusnya ia tak dapat merasakan sedihnya hati Savitri tersebut.

‘Sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu.  Tapi benarkah Bathara akan mengabulkan semua permohonanku ?’  jawwab Savitri seperti hendak menguji kesungguhan Yamadipati.  Padahal ia tahu bahwa Yamadipati tak akan menjilat ucapannya kembali.

‘Aku ini adalah titah seorang dewa. Dharmaku sebagai seorang dewa adalah setia pada janjinya meski nyawa dan kehormatan sebagai taruhannya.’  ‘Tapi,….’  ‘Percayalah padaku, semua permohonanmu akan aku kabulkan asalkan engkau tidak meminta kembalinya nyawa Satyawan suamimu.’  Yamadipati berusaha memberi keyakinan kepada Savitri ketika dilihatnya ada secercah keraguan yang menggelayuti wajah Savitri.

‘Permintaan pertamaku adalah berikanlah kepadaku 100 kerajaan yang akan dipimpin oleh 100 orang raja yang adil, sederhana dan bijaksana sehingga rakyatnya akan makmur, damai dan sejahtera.’ Kata Savitri tanpa ragu sedikitpun demi menyambutperintah Yamadipati.

‘Jangankan 100 kerajaan 1000 kerajaanpun akan aku berikan kepadamu.’ Timpal Yamadipati menjawab permohonan pertama Savitri.  Wajah Savitri terlihat terkejut mendengar jawaban Yamadipati.
‘Permintaan keduaku adalah berikanlah  kepadaku sebuah tempat peribadatan yang dilengkapi dengan madrasah agar ke 100 orang raja itu dapat menimba kawruh dan dharma di tempat itu.’  Kali ini suara Savitri terdengar lebih tegas lagi, mungkin karena ia mulai merasakan sesuatu yang menyelimuti batinnya.

‘Sungguh engkau adalah seorang putri mahkota yang sangat bijaksana.’ Puji Yamadipati.  Namun begitu pujian Yamadipati itu tak sedikitpun mempengaruhi perasaan Savitri.  Ia tampak fokus pada permohonan-permohonannya.

‘Dan sebagai permintaanku yang terakhir adalah bahwa ke 100 orang raja yang bijaksana tersebut adalah anak anaku sendiri dari hasil pernikahanku dengan Satyawan.’  Untuk permohonan yang terakhir ini suara Savitri sedikit melunak.  Nada suaranya dibuat sedemikian rupa agar Yamadipati dapat mendengarkan dan memahaminya dengan seksama tanpa perlu mengulanginya.  Ia seperti khawatir jika Yamadipati tak dapat memahami permohonannya yang terakhir ini.

‘Baiklah !  jika tidak ada pesan lain aku akan segera membawa pulang roh satyawan suamimu.’  Sahut Yamadipati penuh ketergesagesaan.  Sementara itu Savitri tampak tersenyum penuh arti demi mendengar ucapan Yamadipati.
‘Bukankah Bathara Yamadipati telah berjanji untuk mengabulkan seluruh permohonanku ?’ tanya Savitri mengingatkan Yamadipati akan janjinya.

‘betul Savitri ! Dan aku sudah menuliskan semua permintaanmu tersebut dalam suratan takdir.’ Jawab Yamadipati seperti tak mengerti maksud pertanyaan Savitri.  Savitri sekali lagi tersenyum penuh arti kepada Yamadipati.

‘Terimakasih Bathara. Selamat jalan dan semoga kebaikanmu menjadi lentera bagi kegelapan dunia.’ Ucap Savitri sembari membungkukkan badannya memberi hormat kepada Yamadipati.

‘apakah maksud dari ucapanmu itu Savitri ?’ tanya Yamadipati penuh kebingungan.  Ia menagkap ada yang ganjil dari seluruh ucapan Savitri.

‘Sebagai titah seorang dewa tentu Bathara lebih tahu dan bijaksana dalam menganggit seluruh permohonanku.’ Jawab Savitri dengan senyumnya yang penuh arti.  Lagi-lagi Yamadipati dibuat tenggelam dalam permainan kata.  Bathara Yamadipati tampak merenung sejenak sambil mengerutkan dahinya. Iapun lantas tertawa terbahak-bahak setelah menyadari seluruh permohonan Savitri.

‘baiklah Savitri. Engkau memang seorang yang tidak hanya bijaksana tetapi juga lantip.  Semoga dunia akan bersinar terang dengan kehadiranmu.  Bagaimana mungkin aku akan mencabut nyawa Satyawan malam ini sementara aku telah meluluskan semua permohonanmu untuk memiliki 100 orang putra dari hasil pernikahanmu dengan Satyawan.’ Setelah mengusap kepala Satyawan dan Savitri, Bathara Yamadipatipun berpamitan.  Kerajaan Niskalapun tak jadi berduka.  Savitri dan Satyawan pun hidup berbahagia sampai ke 100 putranya menjadi raja di masing masing kerajaan mereka.

Cerpen oleh Noerjoso

Comment

News Feed