by

Buku “Toleransi Kini dan Nanti” untuk Cegah Intoleransi dan Dorong Keutuhan NKRI

iKabari – Depok: Bangsa Indonesia baru saja merayakan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2019. Di antara nilai-nilai Pancasila terdapat karakter toleransi, yakni saling menghargai, tenggang rasa, dan gotong royong. Namun, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila mendapat ujian dalam beberapa tahun terakhir.

Pada saat ini, nilai-nilai toleransi mulai terkikis di lingkungan masyarakat maupun negara. Keadaan toleransi dalam kebhinekaan menjadi buruk sekali dan sedikit demi sedikit seperti menghilang dari keutuhan berbangsa dan bernegara. Sehingga, munculnya intoleransi berpotensi dapat menghacurkan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia. Lahirnya intoleransi terjadi dikarenakan banyak masyarakat mudah terpengaruh akan informasi-informasi hoax (hoaks, berita miring tanpa fakta). Banyak berita hoax yang dilebih-lebihkan dari kalangan yang tidak bertanggung jawab, khususnya di media sosial seperti Facebook, Twitter maupun disebarkan dari Grup-grup WhatsApp (WA).

Namun, faktor utama menghilangnya toleransi dan semangat persatuan dalam kehidupan bangsa terjadi dikarenakan masyarakat yang memahami arti penting toleransi dalam kehidupan bangsa semakin sedikit. Selain itu, banyak masyarakat yang kurang memahami Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa.

Kendati intoleransi meningkat, namun masih ada kabar baik. Sejumlah masyarakat terus mengkampanyekan nilai-nilai toleransi di tengah-tengah masyarakat. Toleransi sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa indonesia. Merujuk pada sejarah, ketika zaman penjajahan, semua rakyat dari beragam Ras, Suku dan Agama yang berbeda-beda memiliki tujuan dan semangat sama untuk memerdekaan bangsa dan negara Indonesia dari penjajahan.

Mudzakkir Harun Alrasyid, S.Ag.,M.Pd, Guru SDIT MU Addiniyyah (dua dari kanan), Kepsek SDIT MU, Dedy Susanto,S.T.,M.Pd. (dua dari kiri), diapit guru SDIT MU. (ISTIMEWA)

Di antara pihak yang masih mengkampanyekan nilai-nilai toleransi adalah Mudzakkir Harun Alrasyid, S.Ag.,M.Pd, Guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Miftahul Ulum (MU) Addiniyyah, Gandul, Kota Depok, Jawa Barat. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Miftahul Ulum Addiniyyah Gandul. Mudzakkir Harun Alrasyid menerbitkan buku berjudul ‘Toleransi Kini dan Nanti’. Materi buku sudah dipraktekkan di ruang kelas SDIT MU, sehingga nilai-nilai toleransi bisa dipraktekkan secara mudah oleh para siswa di lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat maupun untuk bangsa dan negara.

Menurutnya, buku karya pertamanya ini merupakan ‘best practise’ ketika mengajar sebagai guru agama di SDIT MU tersebut. Buku tersebut kemudian diikutkan dalam Perhelatan Lomba Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas TK-SD-SMP Se-Kota Depok pada hari Kamis-Jumat, 4-5 April 2019 di SD Yaspen Karakter Bangsa Sukmajaya, Depok. Mudzakkir adalah salah satu dari 18 peserta guru berprestasi Sekolah Dasar (SD) swasta yang menjadi peserta lomba. Jumlah peserta lomba dari guru SD Negeri mencapai 15 orang guru.

Mudzakkir memilih tema kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila, yakni toleransi, karena sudah menjadi bagian materi di kelas SDIT. Padahal, hampir sebagian peserta lain mengambil tema PTK atau Penelitian Tindakan Kelas. Mudzakkir beralasan bahwa ‘best practice’ yang diberi judul “Pemanfaatan Aplikasi Video Smartphone dalam Pembelajaran Toleransi Beragama PAI Kurikulum 2013 Kelas 6 SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok”, adalah tema yang sangat menarik. Sebelum menerbitkan buku tersebut, Mudzakkir sudah menghasilkan produk video pembelajaran tentang nilai-nilai toleransi di ruang kelas, yang diunggah di media sosial Youtube melalui akun bernama keren.mdzkr@gmail.com

Menariknya, buku “Toleransi Kini dan Nanti” dipaparkan saat presentasi ‘best practice’ di depan 3 orang Dewan Juri. Mudzakkir menilai buku tersebut merupakan satu kesatuan dari ‘best practice’. Buku tersebut berisi tentang pembelajaran Surat Al Kafirun (Al-Qur’an); Qiro’ah Nada Kursi Muzammil Hasbalah; Lagu Dien Assalam dari penyanyi milenial, Nisya Sabyan; penggunaan kaligrafi 2 pensil, dan testimoni serta video pembelajaran Siswa Kelas 6 SDIT MU.

Lomba guru berprestasi dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu tes tertulis, wawancara, dan presentasi. Sebelum mengikuti tes setiap peserta harus mengumpulkan portofolio, best practise, dan penilaian akhlaq terpuji. Portofolio yang dikumpulkan oleh peserta sangat bervariatif tebalnya dan bahkan ada yang sampai memakai countainer.

Ada 14 komponen dalam penilaian portofolio yaitu biodata peserta, kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, dokumen pembelajaran, prestasi akademik, prestasi pembimbingan siswa, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum keilmiahan, pengalaman organisasi (bidang pendidikan & sosial), pengalaman tugas tambahan, penghargaan yang diperoleh (dalam bidang pendidikan), penilaian kinerja guru, dan kerangka penulisan KTI. Peserta yang diperkenankan mengikuti lomba ini adalah pemenang dari sekolah tingkat kecamatan baik Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta.

Buku berjudul “Toleransi Kini dan Nanti” diterbitkan oleh Yayasan Miftahul Ulum Addiniyyah Gandul dengan Executive Editor, Zaky Al Hamzah, seorang Mentor Penulis yang sudah menghasilkan dan mengedit belasan buku. Zaky Al Hamzah juga seorang Copywriter Annual Report dan Sustainable Report serta Konsultan Strategi Komunikasi dan Konsultan Branding.

Semoga buku yang dijadikan best practice dalam lomba Guru Berprestasi Kota Depok 2019 ini dapat menginspirasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi lebih menarik, menyenangkan, mudah dipahami, gampang dipraktekkan dan sebagai literatur bagi para kepala sekolah maupun guru di seluruh Indonesia. Buku tersebut juga bisa turut mengurangi penyebaran intoleransi dan menekan hoax. Manfaat lain hadirnya buku tersebut adalah menyebarkan Nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara Indonesia.* zaky/ikabari

Comment

News Feed