by

Perlunya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Usia Dini

Oleh: Diyah Wihartati, SH, Guru TK Masyitoh 25 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.

Korupsi di Indonesia sudah dipandang kejahatan yang luar biasa (Extra Ordinary Crime ). bahkan sudah menjadi budaya yang merebak kemana-mana. Selain pelakunya yang sulit dijerat, akibatnya juga telah mengakibatkan runtuhnya nilai-nilai moral dan peradaban di muka bumi. Kasus korupsi juga banyak dijumpai di dunia pendidikan. Di lingkungan siswa, praktek korupsi sederhana kerap terlihat, seperti suka mencontek, melanggar aturan sekolah, membolos dan sering terlambat. Perilaku buruk tersebut bisa menjadi bibit penyebab budaya korupsi.

Menjadi sangat ironis ketika kemajuan tekhnologi , tumbuh dan menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan justru meningkatnya tingkat korupsi, dan turunnya nilai-nilai moral yang menempatkan Indonesia menjadi 5 besar Negara terkorup di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kaya. Selain letak geografisnya yang sangat strategis ditambah kekayaan alamnya yang melimpah ruah menjadi incaran Negara lain untuk menguasainya.

Sejak Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dan kita terlepas dari kungkungan penjajah selama lebih dari 350 tahun, namun hal itu bukan berarti kemerdekaan sepenuhnya telah kita raih. Kemajuan Industri dan tekhnologi, pesatnya era globalisasi dan digital telah menjadi babak baru penjajahan bentuk lain yang secara tidak sadar telah menggerogoti arti kemerdekaan yang hakiki. Pendidikan yang seharusnya menjadi filter (saring) belum mampu berbuat banyak untuk mengatasi berbagai problem Nasional yang dinamakan ‘Korupsi’.

Dilihat dari apa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa: “Penyelenggaraan pendidikan wajib memegang prinsip, yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kutural dan kemajemukan sebagai satu kesatuan yang sistematik dan multimakna”.

Selain itu, dalam penyelenggaraannya juga dalam suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik melalui budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Hal tersebut selaras dengan tujuan pendidikan nasional Pasal 3 Undang-Undang No.20 Tahun 2003. Pendidikan Nasional bertujuan : Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia , sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri dan jadi warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Melihat bagaimana tujuan pendidikan tersebut terumus jelas produk pendidikan haruslah melahirkan manusia Indonesia yang bertaqwa, cerdas dan jujur, sangat lah bertolak belakang dengan yang kita hadapi dalam kehidupan, bahwa kecurangan, kebocoran anggaran, suap dan sejenisnya sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan bernegara.

Berdasar survei Badan Pengawas Korupsi Dunia (Tranparacy International/TI) Tahun 2013, virus korupsi telah mnggerogoti generasi muda dan aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Generasi muda merupakan agen perubahan (agen of change) sebagai penentu perkembangan suatu bangsa. Namun kenyataannya banyak kasus korupsi melanda bangsa Indonesia, yang melibatkan anak muda. Anak muda zaman sekarang ingin mendapatkan sesuatu itu dengan budaya instan atau cara cepat. Banyak generasi yang semula berprestasi tetapi ketika menduduki jabatan malah untuk mengejar kesuksesan dengan cara korup.

Maka dari itu, perlunya pendidikan anti korupsi dimulai sejak usia dini dan dimasukan dalam Pembelajaran SD sampai Perguruan Tinggi (PT) adalah upaya pemerintah untuk upaya preventif/ pencegahan karena akibat korupsi sudah sedemikian ‘menggurita’ dalam kehidupan masyarakat. Anak Usia Dini disebut juga sebagai masa emas (golden age) sekaligus juga masa kritis pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama mempunyai peran yang sangat krusial.

Anak usia 0-6 tahun adalah masa-masa dimana anak tengah mengalami perkembangan dan pertumbuhan, baik moral agama, fisik motorik, kognitif, emosi, bahasa maupun perkembangan seninya. Keenam aspek perkembangan ini menjadi acuan kurikulum di sekolah dalam mengoptimalkan potensi anak disamping melihat juga Standar Pencapaian Perkembangan berdasar usia peserta didik. Sedangkan di dalam rumah, peran keluarga tidak hanya menjadi tempat lahirnya generasi baru. Akan tetapi juga tempat berevolusinya kearifan yang mengantar anak-anak menjalani fungsi di masyarakat. Keluarga adalah basis pertahanan moral untuk menanamkan nilai-nilai integritas.

Di lingkungan sekolah, Guru juga mempunyai 3 peran yang sangat penting selain sebagai figur teladan. Ketiga peran tersebut adalah:

1. Membangun kejujuran dimulai dari dirinya sendiri yaitu Perkataan, Perbuatan dan kejujuran harus sesuai dengan norma yang berlaku.
2. Tugas Guru di Sekolah adalah mendidik, melatih, mengarahkan pembentukan karakter anak didiknya untuk meiliki sikap jujur, disiplin dan Tanggung Jawab.
Dalam UU No. 30/2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 13 C berbunyi: “Dalam tugas pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d yang menyebutkan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang menyelanggarakan program Pendidikan Anti Korupsi pada setiap jenjang pendidikan.”
3. Pendidikan Anti Korupsi anak usia dini bertujuan membiasakan perilaku-perilaku baik sejak dini. Diawali dengan menanamkan nilai-nilai kasih sayang (Pedagogi of Love), memenuhi kebutuhan dasar anak (makanan sehat dan bergizi), pembelajaran yang ramah anak, serta nilai-nilai dasar pembentuk karakter anak (seperti jujur, peduli, disiplin , mandiri, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil sebagai nilai-nilai integritas.

Pendidikan anak usia dini adalah satu fase yang penting untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan anak di masa awal kehidupannya akan disimpan dan direkam anak dan akan mempengaruhi kepribadiannya hingga ia berangkat dewasa.

Kejujuran adalah dasar bagi semua karakter baik. Kejujuran meliputi :

a. Jujur dalam perkataan.
Berkata jujur berarti tidak berbohong, mengakui kesalahan, menceritakan kehidupan yang sebenarnya. Berkata jujur juga harus disertai tindakan yang benar.

b. Jujur dalam Perbuatan
Berbuat yang yang benar, tidak melanggar peraturan dan tidak berbuat curang, tidak mengambil barang yang bukan miliknya, tidak melakukan perbuatam salah untuk mencapai tujuan tertentu ).

c. Indikator Kejujuran (untuk anak usia 4–6 Tahun ), diantaranya:

1. Bisa Membedakan antara barang milik sendiri dan barang milik orang lain.
2. Meminta ijin saat meminjam barang orang lain.
3. Mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi.
4. Mengakui kesalahan.
5. Meminta maaf bila berbuat salah.
6. Tidak menukar barang milik sendiri dengan barang orang lain tanpa meminta izin.
7. Tidak berbuat curang.

Sebagai penutup artikel ini, seberapa jauh lembaga Pendidikan mampu memberikan Pendidikan Anti Korupsi menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita bersama baik bagi Pemerintah, Lembaga-lembaga Pendidikan, Masyarakat dan Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama yang akan menjadi benteng pertahanan moral anak-anak kita. *** ikabari

Comment

News Feed