by

MPO Pemuda Pancasila Banyumas: Ideologi Pancasila Sudah Final

iKabari – BANYUMAS: Ideologi Pancasila, sudah final, inkracht, dan abadi, tidak bisa digantikan dengan Ideologi apapun. Demikian poin penting yang disampaikan tiga narasumber saresehan bertema “Berpikir Jernih tentang Pancasila sebagai Ideologi, Dasar Negara, dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia” yang diselenggarakan Pemuda Pancasila (PP) Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Banyumas di Banyumas, Jawa Tengah, belum lama ini.

Ketiga narasumber tersebut adalah Sekretaris Jenderal (Sekjend) MPR RI, DR H Ma’ruf Cahyono SH MH; Guru Besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof DR Tukiran Taniredja; dan Dekan dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Prof DR Ade Maman Suherman SH MSc. Ketiganya merupakan Pengurus Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Pemuda Pancasila Tingkat Cabang Kabupaten Banyumas.

VIRTUAL
Sekjen MPR RI, Dr H Ma’ruf Cahyono SH MH, ketika menyampaikan pemikirannya secara virtual dalam Sarasehan Nasional bertema “Berpikir Jernih tentang Pancasila sebagai Ideologi, Dasar Negara, dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia” yang diselenggarakan Pemuda Pancasila (PP) Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Banyumas di Banyumas, Jawa Tengah, belum lama ini. (ISTIMEWA)

Dalam pemaparannya, ketiga narasumber mengajak seluruh Anggota dan Kader PP MPC Banyumas supaya menafsirkan dan memahami Ideologi Pancasila dari aspek kognitif dan efektif. Kemudian, mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari, karena Pemuda Pancasila merupakan pengamal sekaligus pengaman Ideologi Pancasila dari rongrongan pihak lain. Sehingga, bukan sekedar ditafsirkan secara tekstual saja.

PENTINGNYA PANCASILA
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Prof DR Ade Maman Suherman SH MSc, saat memaparkan gagasan di hadapan peserta Sarasehan Nasional bertema “Berpikir Jernih tentang Pancasila sebagai Ideologi, Dasar Negara, dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia”. (ISTIMEWA)

Menurut para pemateri, semua pihak pada umunya, dan Pemuda Pancasila pada khususnya harus meruju Pasal 1 UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945, sebagai konstitusi Negara. Poin utamanya adalah ada tiga Cita Negara dan Bangsa Indonesia, yaitu: Cita Negara Persatuan, Cita Negara Demokrasi dan Konstitusionil, dan Cita Negara hukum.

BERNAS
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof DR Tukiran Taniredja, menguraikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (ISTIMEWA)

Dalam sarasehan tersebut, ketiga narasumber juga mengajak kepada seluruh Anggota dan Kader PP MPC Banyumas, sebagai pengamal dan pengaman Ideologi, dalam menyikapi maraknya pemberitaan tentang Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), untuk tetap menjaga dan melakukan langkah-langkah produktif. Sehingga, diimbau tidak mudah terprovokasi untuk melakukan langkah-langkah kontraproduktif yang justru merugikan Cita Negara dalam Konstitusi. Karena akibat terprovokasi tersebut justru akan merusak keutuhan Negara (nation state) dan Bangsa Indonesia (nation people).

Berpikir Jernih

Sementara itu, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Banyumas, Bung Yudo F Sudiro SH MH, menyampaikan tujuan pelaksanaan sarasehan internal yang diikuti seluruh anggota dan kader PP MPC Banyumas ini. “Yakni untuk mengajak kepada seluruh anggota dan kader Pemuda Pancasila, berpikir Jernih dan lebih memahami, menambah pengetahuan serta wawasan tentang Pancasila sebagai ideologi, dasar negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia,” ujar Yudo, dalam sambutannya.

PROTOKOL KESEHATAN
Para peserta Sarasehan Nasional bertema “Berpikir Jernih tentang Pancasila sebagai Ideologi, Dasar Negara, dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia” menerapkan Protokol Kesehatan dengan mengenakan Face Shield. (ISTIMEWA)

Di samping itu, dia melanjutkan, acara ini yang diselenggarakan dalam dua format ini juga untuk tetap memberikan ruang kepada seluruh anggota dan kader Pemuda Pancasila menuangkan gagasan, pendapat dan ide yang produktif tentang RUU HIP. Format pertama secara offline dan online/virtual, karena pembicara Sekretaris Jenderal (Sekjend) MPR RI, Ma’ruf Cahyono, menyampaikan materi secara virtual dari Senayan, Jakarta. Sedangkan, dua pembicara lain hadir di lokasi acara bertempat di Hotel Grand Karlita Purwokerto, Jakarta. Kegiatan saresehan menerapkan Protokol Kesehatan di Masa New Normal dengan masing-masing pembicara dan peserta mengenakan Face Shield, dikarenakan Pandemi Covid-19 belum berakhir.

Bung Yudo menekankan bahwa PP MPCBanyumas mengajak anggota dan kader berpikir jernih tentang Pancasila. Hal ini menyikapi maraknya pembicaraan tentang Rancangan Undang undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). “Pemuda Pancasila sebagai pengamal dan pengaman Ideologi siap sebagai garda terdepan untuk melawan segala bentuk rong-rongan terhadap Pancasila,” tegasnya.

Penguatan Pembelajaran Pancasila

Selanjutnya, mengakhiri sesi akhir sarasehan, para pembicara dan peserta menyepakati munculnya lima usulan. Diantaranya usulan pertama, menyarankan kepada Pemerintah Indonesia untuk menguatkan implementasi pembelajaran Pancasila di semua lini pendidikan. Usulan kedua, mengembalikan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga tertinggi Negara, bukan lagi sebagai lembaga tinggi negara. Usulan ketiga, yakni apa yang diatur dalam RUU HIP telah diatur dalam Ketetapan MPR RI Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI Tahun 1960 hingga Tahun 2002.

KOMPAK
Suasana Sarasehan Nasional bertema “Berpikir Jernih tentang Pancasila sebagai Ideologi, Dasar Negara, dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia” dengan menerapkan Protokol Kesehatan. (ISTIMEWA)

Usulan keempat yakni menempatkan Pancasila sebagai Ideologi, sumber dari segala sumber hokum dan pandangan hidup bangsa Indonesia, bukan menempatkan Pancasila dalam penjabarannya di Undang undang yang merupakan produk Partai Politik. Usulan kelima atau terakhir adalah menjadikan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai lembaga yang lebih dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila pada generasi bangsa di era kompetitif. n Tim Redaksi

Comment

News Feed